Fenomena sosial media sebagai salah alat maketing dimulai ketika merebaknya Facebook menjadi sosial media terpopuler di dunia. Ketika iPhone diluncurkan menjadi tonggak awal sosial media berkembang. Pindahnya sarana mengakses internet ke perangkat mobile makin memudahkan orang awam mengakses tanpa website media sosial di personal komputer mereka.

Berkembangnya teknologi telepon genggam malah memicu para pengembang aplikasi media sosial menciptakan inovasi baru demi memuaskan para pencinta perangkat pintar. Tentu hal ini dipandang para marketer sebagai kanal komunikasi baru dalam melakukan promosi.

Para memilik brand mulai merangkul komunitas online tersebut demi memperpendek jarak dengan konsumen mereka. Twitter, Instagram sampai yang absurd seperti Snapchat mulai menjadi andalan para marketer untuk beriklan. Selain visi komunikasi dua arah antara brand dan konsumen, biaya menjadi alasan mengunakan sosial media.

Dengan daya jangkau yang cukup besar dan tersegmentasi menjadikan media sosial seperti gelembung yang kian hari makin membesar. Hal ini dikhawatirkan oleh beberapa kalangan dibidang periklanan dan marketing. Para pemilik brand menjadi malas dalam melakukan komunikasi dengan konsumen mereka.

Tudingan ini muncul dari brand penyajian konten yang tidak relevan demi mengejar paparan semata. Pemilik brand berbondong-bondong ke area media digital dan mulai menganggap remeh media konvensional.

Hal inilah yang dikritisi oleh Adwin Wibisono dalam sebuah artikel website The Jakarta Post “Is social media leading us to another bubble?”, 12 april 2013. Dalam tulisan tersebut, beliau mengkritik efektifitas media sosial sebagai alat promosi yang overrated.

Model bisnis melalui media sosial yang marak terjadi ketika para pemegang brand menggunakan Key-Opinion Leader sebagai corong komunikasi mereka. Dengan membayar para Buzzer agar brand mereka dipromosikan ke komunitas mereka. Para pemilik akun ini tentu memiliki ribuan bahkan ratusan ribu follower atau pengikut akun sosial mereka. Inilah yang menjadi daya tarik kenapa para marketer melirik cara ini.

Dalam tulisan tersebut, Penulis juga menyinggung bagaimana media sosial kehilangan nilai aslinya sendiri. Seharusnya media sosial menjadi sarana komunikasi yang jujur antara brand dan konsumen mereka. Bukannya membeli (membayar) suara para Buzzer tersebut untuk membuat produk mereka dibeli oleh konsumen.

Beliau juga mengkritis cara pengukuran efektivitas keberhasilan media sosial hanya melalui jumlah “Likes” atau seberapa banyak “Fans” di akun media sosial brand tersebut. Hal tersebut memang tidak mencerminkan efektivitas promosi yang brand lakukan. Akan tetapi ini bisa menjadi indikator bahwa brand tersebut memiliki daya jual yang kuat.

Dengan memiliki kemampuan tersebut akan memberikan kesempatan brand untuk mendapatkan loyalitas yang lebih. Para konsumen loyal inilah yang menjadi pendukung bagi pemilik brand untuk mendapat konsumen baru. Media sosial kebanyakan memiliki fitur “Shared” yang menjadi sarana words of mouth.

Diharapkan dengan kepercayaan para konsumen fanatik brand tersebut dapat menularkan kepada konsumen baru. Jadi tidak sepenuhnya media sosial tidak bisa digunakan secara efektif di dalam marketing dan periklanan.

Sedikit berbeda dengan Penulis, penggunaan media sosial untuk marketing dan iklan cukup efektif untuk para pemilik atau usaha kecil dan menengah. Dengan biaya yang bisa ditekan, sangat cocok dengan keadaan finansial mereka.

Komunikasi yang terarah dan terencana dapat menghasilkan efektivitas yang sesuai dengan tujuan mereka. Kebanyakan brand kecil ini mengincar ceruk pasar dan media sosial yang sesuai dengan tujuan bisnis mereka. Model bisnis berdasarkan media sosial tidak sepenuhnya salah. Tergantung dari mana sisi mana kita melihatnya.

Untuk para brand besar, beralihnya cara promosi dari media tradisional ke media sosial tentu saja bukan pilihan yang bijak. Mereka punya potensi pasar yang lebih besar, tentu saja akan mencari media yang besar pula untuk itu. Produk semacam FMCG tidak efektif apabila bermain di area media sosial. Konyol rasanya membeli sampo melalui twitter.

Ada beberapa perusahaan yang sukses menggukan media sosial secara efektif, Salah satu contoh bijaksana dalam mengunakan sebagai sarana marketing adalah website Ideastorm DELL Computer. Mereka membangun sendiri environment yang mereka butuhkan tanpa berafiliasi dengan media sosial besar macam Facebook ataupun Twitter.

Konsumen Dell berkumpul dan menyampaikan uneg-uneg mereka dan harapan akan produk baru DELL di masa depan. Salah satu keputusan yang diambil berdasarkan masukan customer di Ideastorm adalah dibundle-nya Distro Linux di beberapa varian produk DELL yang merusak kerjasama mereka dengan Microsoft.

Dalam perkembangannya, bahkan Ideastorm dapat menjaring 11 ribu gagasan dari konsumen dan 85 ribu komentar dari pelanggan yang saling berkomunikasi tentang produk-produk DELL. Ini membuktikan bahwa beberapa perusahaan telah memahami dalam memandang media sosial sebenarnya. Mereka terbukti tidak hanya menjadi data mining, tetapi juga menjadi senjata pendukung bagi para marketer untuk berpromosi.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Baca Dulu Sih

Mesin versus Manusia

Perkembangan teknologi digital telah mempengaruhi segala aspek dalam industri media. Pergeseran pola perilaku konsumsi dan penggunaan media menjadi…
Baca Dulu Sih