Universitas Indonesia memiliki reputasi bagus sebagai universitas negeri, banyak orang sukses (relatif) sebagai alumni UI. Lantas menjadikan UI, universitas yang bagus?

Daftar nama diatas hanyalah sebagian contoh kecil saja. Walaupun hasil subjektif semata setidaknya bisa mengambarkan pandangan orang awam pada umumnya. Mungkin juga Anda pernah menemukan list narsis seperti ini di intitusi lain.

UI memiliki reputasi bagus sebagai universitas, banyak orang sukses (relatif) sebagai alumni UI. Lantas menjadikan UI universitas yang bagus?.

Metode dan kurikulum yang diterapkan tidak jauh berbeda dari universitas lain. Bila ditanya soal fasilitas sebagai pendukung pebelajaran, UI tidak (terlalu) spesial dibandingkan kampus-kampus elit swasta di Jakarta. Jika Anda adalah mahasiswa atau alumni UI pasti bisa merasakan perbedaannya 🙂

Tidak ada yang tahu persis jawaban rasional tepat.

Mungkin alasan yang paling mendekati adalah Proses Seleksi Ketat. Hal ini memungkinkan UI, (ITB & UGM) mendapatkan sebagian mahasiswa terpandai di negeri ini.

Para siswa dari seluruh yang mempunyai kemampuan akademik, punya kapasitas otak yang luas atau yang punya kantong tebal ingin berebut bangku UI.

Belum lagi estimasi perebutan bangku kuliah secara umum jauh lebih tinggi dibandingkan kampus lain. Satu bangku saja bisa diperebutan lebih dari 1000 (lebih) pendaftar, apalagi jika jurusan tersebut menjadi favorit. Proses ini membuat para peminat belajar lebih keras untuk mendapatkan hasil memuaskan.

Klo berbicara tentang tingkat kesulitan test masuk, itu relatif. Yang benar-benar mempersiapkan dengan sungguh, tentu lebih unggul daripada yang tidak tentunya. Bagi mereka yang bekantung tebal membayar bimbingan belajar yang mahal pun tidak sulit.

Ilusi Tubuh Perenang

Dalam buku The Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli, ia menjelaskan berbagai macam kesalahan nalar/ cara berpikir atau bias. Di salah satu bab-nya, penulis menjelaskan fenomena umum dari kesalahan nalar tersebut.

Fenomena ini pun juga bisa dirasakan di Indonesia. Masyarakat memang masih berpikir jika mereka ataupun anak mereka masuk perguruan tinggi negeri adalah suatu kebanggaan.

Banyak orang yang merasa ketika tidak mendapat berkuliah di universitas negeri unggulan adalah hal yang buruk.

Akan tetapi mereka tidak menyadari, bukan insitusi pendidikan seperti universitas yang berpengaruh besar dalam mencetak atau menghasilkan orang-orang sukses. Agak sedikit lucu klo dibilang institusi pendidikan adalah tempat pencetak orang sukses.

Buktinya banyak miliarder yang sukses tanpa jalur lulus dari intitusi pendidikan.

Proses seleksi ini adalah tiang dari kehidupan yang sebenarnya. Seperti memasak, untuk mendapatkan makanan lezat dan gurih, Anda musti memastikan bahan yang digunakan adalah yang terbaik pula.

Nassim Taleb, seorang penulis dan investor, ia menyebut ilusi pemikiran tesebut sebagai bias tubuh perenang.

Perenang professional tentu memiliki tubuh yang proposional dan ideal. Tapi mereka mendapatkan hal tersebut bukan karena hasil latihan sebagai atlit. Sebaliknya mereka adalah perenang yang baik karena mereka memiliki fisik yang mendukung untuk berenang didalam air tentunya. Bentuk tubuh merupakan faktor seleksi, dan bukan dari hasil dari kegiatan yang mereka jalankan.

Para pengemar olah raga renang tahu Michael Phelps bagimana kehebatan menyambet medali terbanyak sebagai individual maupun di cabang renang Olimpiade (23 emas, 5 perak).

Michael Phelps bisa berenang seperti ikan karena memang tubuhnya tinggi (192 cm) dan ramping memudahkan dia berenang dengan kecepatan maksimal. Dalam dunia renang, tinggi badan adalah faktor penting.

Makanya jangan heran perusahaan besar seperti Google sangat memperhatikan proses seleksi ataupun rekrutmen pegawai mereka. Mereka hanya akan menghire karyawan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka dengan atribut tertentu sebagai acuannya.

Bias Ilusi Perenang ini juga menjadi biasa karena banyak orang awam yang menyalahkan iklan karena dirasa sering menipu konsumen.

Contohnya para wanita percaya dengan memakai kosmetik yang ada di iklan tv akan membuat mereka akan sama cantiknya dengan model iklan kosmetik tersebut. Akan tetapi bukan kosmetik lah yang membuat model in cantik.

Para model ini memang terlahir menarik, dan karena hal itu lah mereka dapat menjadi model iklan kosmetik tersebut. Tinggal dipoles dengan teknik make-up yang sesuai dengan bentuk wajah mereka saja. Perempuan tidak miliki keistimewaan tersebut akan sulit untuk menarik walaupun mereka berusaha keras.

Misalnya saya berkuliah di sekolah bisnis sekaliber Prastya Mulia , menjamin saya menjadi seorang pengusahaa sukses dimasa depan?. Belum tentu walaupun itu mungkin terjadi.

Hal yang paling mungkin adalah Jika Anda berasal dari keluarga kaya dan menerapkan konsep kewirausahaan dengan membuat bisnis yang nyata.

Logikanya, siapapun yang berkuliah di Prastya Mulia adalah orang-orang yang punya modal lumayan (sangat) kuat jika dilihat dari biaya kuliahnya sendiri. Mereka memang dipersiapkan oleh orang tua untuk menjadi Enterpreneur.

Belum lagi basis koneksi orang-orang bisnis yang berorentasi pada prakter membuat kampus ini menjadi tempat yang pas untuk berkembang sebagai enterprenur. Tentu semua ini akan didapat apabila Anda dari sononya sudah kaya.

Dengan memiliki modal usaha tentu kemungkinan untuk sukses jauh lebih nyata, ketimbang jika kamu dari keluarga yang biasa-biasa saja.

Jadi jika Anda sedang mempertimbangkan sekolah S2, cari alasan lain selain nama besar ataupun iming-iming gaji tinggi setelah lulus.

Usaha dan kerja keras belum tentu menghasilkan yang maksimal apabila tidak dibarengi perencanaan yang matang. Kita musti bisa mengukur mana yang terbaik dari kita dan coba memaksimalkannya.

Manusia pada hakikatnya selalu mencari kebahagian secepat mungkin melalui segala kemungkinan yang ada.

Ironisnya, mereka sering dibutakan dengan bias Ilusi tubuh perenang.

Menurut dua ahli ilmu sosial David Lyklen dan Aube Tellegan, berusaha untuk menjadi lebih bahagia sama sia-sianya seperti berusaha untuk menjadi lebih jangkung/tinggi.

David Gilbert dari Harvard, orang yang benar-benar bahagia adalah orang kepribadian ceria yang selalu konstan sepanjang hidup mereka.

Orang-orang ini selalu melihat gelas setengah berisi daripada setengah kosong.

Mereka tidak menyadari bahwa mereka orang yang terlahir bahagia dalam hidup dan cenderung melihat sisi positif dalam segala hal.

Secara garis besar kebahagian timbul karena penerimaan diri sendiri. Mereka sadar penerimaan atas diri sendiri adalah level tertinggi dari kebahagian.

Justru dengan menyadari segala kekurangan dan meningkatkan potensi lain yang ada dalam diri, malah akan membawa Anda kearah kesukseskan yang telah lama diimpikan.

Ingatlah “garbage in, garbage out”

Kesimpulannya: Waspadalah pada dorongan-dorongan berjuang demi mendapatkan hal-hal tertentu-baik itu penampilan yang sempurna, pendapatan yang lebih tinggi, pembawaan tertentu ataupun kebahagiaan. Mungkin Anda sedang terjebak dalam ilusi tubuh perenang.

Sebelum memutuskan untuk melakukan, Berkacalah dulu-dan jujurlah tentang apa yang Anda lihat.

Reference:

Rolf Dobelli — The Art of Thinking Clearly

http://www.dailymail.co.uk/news/article-3734022/Golden-goliath-Drink-driving-party-animal-Michael-Phelps-overcame-demons-greatest-Olympian-time.html

Nassim Nicholas Taleb — The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable

David Lykken and Auke Tellegen — Happiness Is a Stochastic Phenomenon

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Baca Dulu Sih

Mesin versus Manusia

Perkembangan teknologi digital telah mempengaruhi segala aspek dalam industri media. Pergeseran pola perilaku konsumsi dan penggunaan media menjadi…
Baca Dulu Sih